get app
inews
Aa Text
Read Next : Polsek Kertosono Dampingi Pengecekan dan Pendataan Tempat Kos

7 Desa Rawan Krisis Air, BPBD Nganjuk Siapkan Langkah-Langkah Antisipasi

Selasa, 20 Juni 2023 | 18:59 WIB
header img
petugas BPBD Nganjuk menyiapkan armada truk tangki untuk memasok air bersih. Foto: iNewsNganjuk.id/Panji.

NGANJUK, iNewsNganjuk.id - Pada musim kemarau tahun 2023 ini, sebanyak 7 desa yang tersebar di 2 kecamatan berstatus rawan kekeringan atau krisis air bersih.

Berdasarkan data pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk, titik-titik lokasi krisis air bersih itu antara lain di Desa Ngepung, Prayungan, Pinggir dan Desa Sumbersono di Kecamatan Lengkong. Serta, Desa Pule, Pulowetan dan Desa Dawuhan yang berada di Kecamatan Jatikalen.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Nganjuk Abdul Wakid mengatakan, pihaknya saat ini sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi, baik secara SDM, sarana dan prasarana, untuk menghadapi krisis air di sejumlah desa tersebut.

"Langkah-langkah tersebut kami siapkan, mengingat berdasarkan perkiraan Stasiun Klimatologi Malang, puncak musim kemarau di Jawa Timur terjadi pada Agustus 2023. Paling cepat Juli 2023 untuk wilayah utara Kabupaten Kediri dan Nganjuk dan wilayah selatan Tulungagung," terang Wakid.

Terkait dengan kondisi tersebut, lanjut Wakid, pihaknya telah mengidentifikasi dan memetakan daerah rawan kekeringan di Nganjuk. 

Kemudian, menyiapkan sejumlah sarana dan prasarana penunjang, antara lain unit petugas yang siaga 24 jam, 2 armada truk tangki, 11 unit tandon dengan kapasitas 2.200 liter dan 1.200 liter, 270 jeriken dengan kapasitas 25 liter, serta 10 unit kendaraan operasional roda 2.

"Selain itu, kami juga sudah menempatkan 12 unit tandon dan 120 jeriken di Dusun Sendanggogor Desa Ngepung Lengkong, 2 unit tandon di Dusun Sumbergondang Desa Perning Jatikalen, dan 1 unit tandon di Dusun Kedungringin Desa Pule Jatikalen," ujar Abdul Wakid.

Lebih lanjut, menurut Wakid, BPBD Nganjuk juga akan menyiapkan anggaran yang akan digunakan. Serta, menetapkan keadaan darurat kekeringan jika terjadi kondisi kekeringan yang luar biasa.

"Ini mengingat musim kemarau tahun ini waktunya lebih maju, jadi diprediksi akan lebih panjang. Berbeda dengan tahun 2022 kemarin di mana musim hujannya yang panjang," ujarnya.

Selebihnya, Wakid menyebut langkah-

langkah antisipasi dampak kemarau lainnya akan dibahas lebih lanjut bersama instansi-instansi dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait lainnya.

Editor : Agus suprianto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut